Skip to main content

Posts

Showing posts with the label budaya

Keukarah, Penganan Adat dari Barat Selatan Aceh

Keukarah atau karah adalah penganan terbuat dari campuran tempung dan santan berbentuk lembing dengan ukuran yang bervariasi, ada yang kecil seukuran tangan orang dewasa ada yang sampai seukuran piring nasi.  Kue ini adalah salah satu jajanan khas Aceh mirip serabut kelapat mulai warna dan teksturnya atau sarang burung yang terbuat dari jerami. Rasanya sangat gurih, renyah, manis, garing, dan rapuh.  Kue Karah sangat khas bagi masyarakat Aceh, ada yang kurang bila penganan ini tidak ada dikala acara adat di Aceh khususnya Aceh Barat dan Nagan Raya. oleh karena itu kue ini sering dijumpai pada pernikahan sebagai hantaran atau pulangan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan begitu juga sebaliknya.  Selain itu menjelang hari raya atau acara adat dan Kenduri Aceh,kue ini juga tak pernah absen dalam penyajian kudapan. menyambut tamu juga tak luput dari hidangan kue Karah. Kue Karah bisa kamu dapati Aceh Barat, hampir sepanjang jalan sebelum memasuki...

Teuku Peukan (Hero of Abdya)

Kota Blangpidie (enda Chymenks) Kabupaten Aceh Barat Daya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia.  Kabupaten ini resmi berdiri setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002. Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan kabupaten hasil kerja keras para tokoh pendiri kabupaten ini. Aceh Barat Daya sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an. Kabupaten ini memiliki banyak sebutan salah satunya "Bumoe Teungku Peukan" Teungku Peukan Lahir tahun 1886, Manggeng, Aceh Barat Daya dan meninggal 11 September 1926, Blangpidie, Aceh Barat Daya, tempat peristirahatan/makam Almarhum di halaman Masjid Jami' Baitul Adhim Blangpidie Teungku Peukan...

Rapai Geleng (Syiar Agama & Tari)

Rapa'i Geleng adalah sebuah tarian etnis Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Bagian Selatan tepatnya Manggeng, yang sekarang masuk kawasan Kabupaten Aceh Barat Daya. Rapa'i Geleng dikembangkan oleh seorang anonim di Aceh Selatan. Permainan Rapa'i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair yang dinyanyikan, kostum dan gerak dasar dari unsur Tari Meuseukat. Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki. Biasanya yang memainkan tarian ini ada 12 orang laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang dibawakan adalah sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana hidup bermasyarakat, beragama dan solidaritas yang dijunjung tinggi. Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial. Rapa'i Geleng p...

Rateb Meuseukat (Syiar Agama & Tari)

  Rateeb Meuseukat tarian Aceh yang berasal dari Aceh Barat Daya. Nama Rateb Meuseukat berasal dari bahasa Arab yaitu rateb asal kata ratib artinya ibadah dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam. Tari Rateb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh salah satu anak tokoh ulama yaitu Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syair atau ratebnya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan yang hidup pada abad ke XIX. Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan shalawat kepada Allah SWT dan Nabi. Dimainkan oleh sejumlah anak perempuan dengan pakaian adat Aceh, tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di Kabupaten Aceh Barat Daya. Pada mulanya Rateb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji atau pelajaran agama malam hari dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Rateb Meuseukat itu dipertunju...

Silahturahmi dengan beradu burung (Adu Balam)

Nanggroe Aceh Darussalam Sebutan bagi provinsi Bagian ujung barat indonesia, Aceh meliki ragam adat budaya dan tradisi, salah satunya Adu Balam. Adu balam adalah Adu burung Tekukur, selain di aceh kegiatan yang menjadi tradisi ini ada juga di Sumatera Barat (orang tahunya Padang ama bukit tinggi), namun di Aceh khususnya di Nanggroe Breuh Sigupai ini dilakukan pada hari minggu saja, tepatnya di desa kota Bahagia, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya. Masyarakat setempat menjadikan tradisi unik ini untuk menjalin hubungan silahturahmi sesama warga dari kabupaten lainnya, burung tekukur atau derkuku, atau disebut juga burung balam dijadikan sebagai petarung layaknya adu ayam jago. Pertarungannya dilakukan  didalam Rangkang (sangkar besar yang menampung beberapa orang saja), Burung di adu dialamnya dan yang dinyatakan kalah apabila burungnya sudah tidak mau lagi bertempur dan yang lari dan terbang meninggalkan rangkang juga dinyatakan kalah lo. Pada ...