Teuku Peukan (Hero of Abdya)

Kota Blangpidie (enda Chymenks)


Kabupaten Aceh Barat Daya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. 
Kabupaten ini resmi berdiri setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002.

Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan kabupaten hasil kerja keras para tokoh pendiri kabupaten ini.

Aceh Barat Daya sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an.

Kabupaten ini memiliki banyak sebutan salah satunya "Bumoe Teungku Peukan"

Teungku Peukan
Lahir tahun 1886, Manggeng, Aceh Barat Daya dan meninggal 11 September 1926, Blangpidie, Aceh Barat Daya, tempat peristirahatan/makam Almarhum di halaman Masjid Jami' Baitul Adhim Blangpidie

Teungku Peukan merupakan pahlawan kemerdekaan dari kabupaten Aceh Barat Daya. Dia dilahirkan pada tahun 1886 di Sawang, Aceh Selatan dan lama menetap di Manggeng, Aceh Barat Daya.

Dia adalah salah seorang ulama terkemuka di daerah Manggeng. Orang tuanya Teungku Adam juga seorang ulama yang dikenal dengan sebutan Teungku Padang Ganting yang berasal dari daerah Alue Paku, Aceh Selatan. Sedangkan ibunya bernama Siti Zulaikha.
Pada malam menjelang peperangan dengan kolonial Belanda, Teungku Peukan dan pasukannya terlebih dahulu melakukan ritual wirid dan zikir (serah diri) kepada Tuhan di sebuah meunasah (mushalla) Ayah Gadeng, Manggeng. Setelah ritual tersebut selesai dilaksanakan, Teungku Peukan memerintahkan pasukannya menuju markas Belanda regional Blangpidie (sekarang Asrama Kodim 0110 Aceh Barat Daya) di Blangpidie dengan menempuh berjalan kaki sejauh 20 km.

Pada penyerangan ini juga dihadiri oleh salah seorang putra dari Teungku Peukan yang bernama Teungku Muhammad Kasim yang dikenal dengan sebutan "Teungku Tahala". Menjelang fajar memasuki malam Jumat pada tanggal 11 September 1926, pasukan Teungku Peukan pun tiba dan beristirahat sejenak di bale (balai) Teungku Lhoong Geulumpang Payong, Blangpidie.

Pada saat itu Teungku Peukan membagi 3 sektor penyerangan dan dibantu oleh Said Umar, Waki Ali, dan Zakaria Ahmad yang dikenal dengan nama Nyak Walad. Penyerangan dilakukan pada saat menjelang subuh, sehingga serdadu Belanda kaget dan kocar-kacir. Pada penyerangan itu banyak serdadu Belanda yang tewas.

Sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, Teungku Peukan mengumandangkan azan dan di saat itulah seorang tentara Belanda melepaskan 1 tembakan yang membuat Teungku Peukan meninggal. Teungku Peukan meninggal pada hari Jumat, 11 September 1926.

Dalam kejadian itu Teungku Tahala putra dari Teungku Peukan menjadi emosional dan menyerang serdadu Belanda. Saat itu pula di meninggal dalam pertempuran. Ada beberapa pejuang yang selamat dalam pertempuran itu, yaitu Pang Paneuk dan Sidi Rajab. Dalam peristiwa tersebut atas inisiatif Teungku Yunus Lhong jenazah Teungku Peukan dan 5 peujuang lainnya (termasuk putra dia) dimakamkan di depan Masjid Jami' Baitul 'Adhim Blangpidie.

wikipedia
Teuku Peukan (Hero of Abdya) Teuku Peukan (Hero of Abdya) Reviewed by Mimi Saputra on March 13, 2017 Rating: 5
Powered by Blogger.